Kamis, 28 Maret 2013

Kota Ternate & Potensi Pariwisata Internasional


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.              Peran Pemerintah Daerah
Sebagai industri perdagangan jasa, kegiatan pariwisata tidak terlepas dari peran serta pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pemerintah bertanggung jawab atas empat hal utama yaitu; perencanaan (planning) daerah atau kawasan pariwisata, pembangunan (development) fasilitas utama dan pendukung pariwisata, pengeluaran kebijakan (policy) pariwisata, dan pembuatan dan penegakan peraturan (regulation). Berikut ini adalah penjelasan mengenai peran-peran pemerintah dalam bidang pariwisata tersebut di atas:
1.     Perencanaan Pariwisata
Pariwisata merupakan industri yang memiliki kriteria-kriteria khusus, mengakibatkan dampak positif dan negatif. Untuk memenuhi kriteria khusus tersebut, memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan sehubungan dengan pengembangan pariwisata diperlukan perencanaan pariwisata yang matang. Kesalahan dalam perencanaan akan mengakibatkan munculnya berbagai macam permasalahan dan konflik kepentingan di antara para stakeholders. Masing-masing daerah tujuan wisata memiliki permasalahan yang berbeda dan memerlukan jalan keluar yang berbeda pula.
Dalam pariwisata, perencanaan bertujuan untuk mencapai cita-cita atau tujuan pengembangan pariwisata. Secara garis besar perencanaan pariwisata mencakup beberapa hal penting yaitu: (1) perencanaan pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk memacu pertumbuhan berbagai jenis industri yang berkaitan dengan pariwisata, (2) perencanaan penggunaan lahan, (3) perencanaan infrastruktur yang berhubungan dengan jalan, bandar udara, dan keperluan lainnya seperti; listrik, air, pembuangan sampah dan lain-lain, (4) perencanaan pelayanan sosial yang berhubungan dengan penyediaan lapangan pekerjaan, pelayanan kesehatan, pendidikan dan kesejastraan sosial, dan (5) perencanaan keamanan yang mencakup keamanan internal untuk daerah tujuan wisata dan para wisatawan.
2.     Pembangunan Pariwisata
Pembagunan pariwisata umumnya dilakukan oleh sektor swasta terutama pembangunan fasilitas dan jasa pariwisata. Namun, pengadaaan infrastruktur umum seperti jalan, listrik dan air yang berhubungan dengan pengembangan pariwisata terutama untuk proyek-proyek yang berskala besar yang memerlukan dana yang sangat besar seperti pembangunan bandar udara, jalan untuk transportasi darat, proyek penyediaan air bersih, dan proyek pembuangan limbah merupakan tanggung jawab pemerintah. Selain itu, pemerintah juga beperan sebagai penjamin dan pengawas para investor yang menanamkan modalnya dalam bidang pembangunan pariwisata.
3.     Kebijakan Pariwisata
Kebijakan merupakan perencanaan jangka panjang yang mencakup tujuan pembangunan pariwisata dan cara atau prosedur pencapaian tujuan tersebut yang dibuat dalam pernyataan-pernyataan formal seperti hukum dan dokumen-dokumen resmi lainya. Kebijakan yang dibuat permerintah harus sepenuhnya dijadikan panduan dan ditaati oleh para stakeholders. Kebijakan-kebijakan yang harus dibuat dalam pariwisata adalah kebijakan yang berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesempatan kerja, dan hubungan politik terutama politik luar negeri bagi daerah tujuan wisata yang mengandalkan wisatawan manca negara. Umumnya kebijakan pariwisata dimasukkan ke dalam kebijakan ekonomi secara keseluruhan yang kebijakannya mencakup struktur dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Kebijakan ekonomi yang harus dibuat sehubungan dengan pembangunan pariwisata adalah kebijakan mengenai ketenagakerjaan, penanaman modal dan keuangan, industri-industri penting untuk mendukung kegiatan pariwisata, dan perdagangan barang dan jasa.

4.     Peraturan Pariwisata
Peraturan pemerintah memiliki peran yang sangat penting terutama dalam melindungi wisatawan dan memperkaya atau mempertinggi pengalaman perjalanannya. Peraturan-peraturan penting yang harus dibuat oleh pemerintah untuk kepentingan tersebut adalah: (1) peraturan perlindungan wisatawan terutama bagi biro perjalanan wisata yang mengharuskan wisatawan untuk membayar uang muka (deposit payment) sebagai jaminan pemesanan jasa seperti akomodasi, tour dan lain-lain; (2) peraturan keamanan kebakaran yang mencakup pengaturan mengenai jumlah minimal lampu yang ada di masing-masing lantai hotel dan alat-alat pendukung keselamatan lainnya; (3) peraturan keamanan makan dan kesehatan yang mengatur mengenai standar kesehatan makanan yang disuguhkan kepada wisatawan; (4) peraturan standar kompetensi pekerja-pekerja yang membutuhkan pengetahuan dan keahlian khusus seperti seperti pilot, sopir, dan nahkoda.
Selain itu, pemerintah juga bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya alam seperti; flora dan fauna yang langka, air, tanah dan udara agar tidak terjadi pencemaran yang dapat mengganggu bahkan merusak suatu ekosistem. Oleh karena itu, penerapan semua peraturan pemerintah dan undang-undang yang berlaku mutlak dilaksanakan oleh pemerintah.

B.              Strategi Pemerintah Daerah
1.             Strategi Pengembangan Pariwisata dan Promosi
            Strategi adalah melakukan sesuatu yang benar. Dikaitkan dengan promosi pariwisata, kondisi antara daerah satu dengan daerah yang lain akan berbeda. Oleh karena itu, strategi harus harus berdasarkan hasil penelitian. Bukan asal buat brosur, leaflets guide books, dan lain-lain. Dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, promosi harus dilaksanakan secara koordinatif. Terutama darai unsure swasta (usaha pariwisata) sebagai “pelayan” terhadap kunjunganwisatawan. Sungguh tepat moto “Sapta Pesona”, karya Alm. Soesilo Soedarman (Mantan Menparpostel). Bagaimana wisatawan akan berkunjungan ke suatu objek wisata (walau unggulan bila kondisi wilayah tersebut tidak aman, tidak tertib, banyak kekacauan, unjuk rasa,dan penculikan.
            Menurut pengamatan, calon wisatawan dari negara asal (generating area), lebih banyak tahu tentang kondisi yang sedang terjadi di tanah air sekarng ini, berkat kemajuan teknologi informasi. Mereka memantau dari internet, atau e-mail. Dulu, ketika dunia informasi belum “dijajah” internet, motivasi wisatawan benar-benar masih belum dikotori oleh berita kerusuhan. Para lulusan sekolah pariwisata harus diberi kesempatan sebagai perencana dan pelaksana, terutama penyusun strategi promosi pariwisata secara integral, dan sebagai tenaga perencana pembangunan pariwisata. Memang memprihatinkan, masih sedikitnya lulusan pariwisata yang diberi kesempatan berkarya di Disbudpar, Kanwil, atau instansi yang berkaitan dengan pariwisata.
            Jadi, lebih kurang sukses pariwisata, harus mencari akar permasalahannya. Misalnya, kembali kepada teori strategi promosi yang tak semata “menjual” objek wisata, tapi dengan pembinaan lebih penting. Baik pembinaan kepada objek itu sendiri maupun factor pendukungnya seperti lingkungan, masyarakat, serta aspek keamanan, kebersihan, dan ketertiban. Kalau kondisi tersebut belum kondusif, maka akan sangat berpengaruh pada proses pengembangannya. Oleh karena itu pemerintah pusat dan daerah dapat mengadakan kegiatan promosi tidak sekedar tergantung pada ABPD yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, jenis-jenis dan anggaran untuk promosi tidaklah bersifat imitative karena akan terjadi keadaan yang kaku dan terlambat untuk meraih jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia.
Adanya keterbukaan koordinasi dan keahlian promosi secara terpadu akan membawa dampak positif. Indikasi dengan banyak jumlah kunjungan itu akan mempengaruhi terhadap kesempatan kerja, kesempatan berusaha, dan penerimaan PAD dari sector pariwisata akan meningkat.
Usaha promosi pariwisata bila dilakukan secara optimal, terpadu, dan terkoordinasi dengan mengikutsertakan masyarakat, asosiasi pariwisata, instansi terkait (sperti Kadin, Bappeda, DKPMD, ASITA, Disbudpar) akan membawa pengaruh positif. Usaha tersebut akan sejalan dengan pernyataan yang ditegaskan oleh Jaya Suparna dalam Konfrensi I, Agenda Promosi Pariwisata di Jakarta. Jaya menjawab system yang bagaimana dan kualitas yang bagaiman dalam pelayanan untuk memasarkan produk wisata Indonesia. Jawabnya, “Sistem terpadu dan kualitas unggul”. Untuk meraih sasaran kepuasan dan kesetian pelanggan, beberapa unsur kebutuhan konsumen produk pariwisata perlu diperhatian utnuk dipenuhi, antara lain kenyamanan, kebersihan, kesehatan, kewajaran, kelancaran, dan keunikan.
Dengan adanya Peraturan Daerah (PERDA) Kota Ternate Nomor 4 Tahun 2006 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Pariwisata Kota Ternate Tahun 2005-2010 dan PERDA Kota Ternate Nomor 3 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, maka jelas bahwa perlu adanya peningkatan strategi pengembangan pariwisata Kota Ternate untuk bisa menarik investasi asing.
Kota Ternate sebagai daerah kepulauan yang memiliki peluang untuk berinvestasi khususnya di bidang pariwisata, oleh investasi karena terdapat potensi sumber daya alam yang potensial untuk dikelolah. Sebagai mana yang dikemukakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate, bahwa:
Kota Ternate memiliki sejumlah potensi alam untuk dikembangkan menjadi satu objek yang menarik bagi wisatawan mancanegara, selain itu situs-situs peninggalan Perang Dunia Ke-II yang masih ada di Kota Ternate dan juga tempat-tempat sejarah lainnya. Maka dari itu, ini menjadi suatu keharusan bagi PEMDA untuk mengembangkan potensi-potensi tersebut.
Oleh karena itu, Pemda sebagai aktor daerah harus melakukan pembinaan secara terpadu dalam melakukan promosi pariwisata yang berpedoman kepada Sapta Dharma Kemenbudpar dan motto dari Kota Ternate itu sendiri, yaitu “Bahari Berkesan”, yang mencakup:24
1.     Penghasilan utama devisa
2.     Profesionalsme SDM
3.     Pemeberdayaan ekonomi rakyat
4.     Pemberdayaan wisata nusantara
5.     Peluhuran seni budaya
6.     Pelestarian keindahan alam
7.     Keterpaduan daya upaya.
8.     Pelestarian nilai-nilai budaya lokal
2.     Strategi Pengembangan Ekonomi Pariwisata
a.      Strategi pengembangan pasar wisata
Pertumbuhan jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu wilayah dimungkinkan beberapa sebap:
1.        Pertumbuhan dalam pariwisata karena utnuk tujuan bisnis, wistawan ini digolongkan pengunjung bisnis perorangan dan pengunjung bisnis perusahaan-perusahaan.
2.     Pertumbuhan dalam jumlah orang yang mengambil cuti liburan dan frekuensi liburan.
24 Rencana Strategi  (RENSTRA) , DISBUDPAR Kota Ternate, Hal 21



Dari data kunjungan tamu di Kota Ternate dapat kita proyeksikan jumlah kunjungan wisatawan di tahun-tahun kedepan mengalami peningkatan. Maka dari tabel diatas, rata-rata proyeksi wisatawan untuk tahun 2011 hingga 2015 akan mengalami peningkatan. Untuk memperoleh angka peningkatan kunjungan wisatawan tersebut maka pemerintah Kota Ternate harus melakukan strategi pengembangan wisata, yaitu:
1.     Mengidentifikasi segmen pasar wisata untuk setiap obyek wisata.
2.     Menegmbangkan produk wisata untuk memperluas segmen pasar wisata.
3.      Meningkatkan akses ke seluruh Obyek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) di Kota Ternate.
4.     Meningkatkan promosi pariwisata Kota Ternate melalui leaflet, media cetak, dan media internet.
b.     Startegi pengembangan investasi
Investasi memainkan peran yang sangat penting dalam masyarakat yang sednag menbangun. Investasi bagaikan motor yang menggerakan kehidupan ekonomi nasional, karena pembentukan modal memperbesar kapasitas produksi, menaikan PDB, menciptakan lapangan pekerjaan, dan meningkatan pendapatan masyarakat. Ada beberapa kendala yang menyebapkan investor asing maupun domestic masih enggan untuk segera melakukan investasinya di Kota Ternate antara lain:
1.     Keterbatasan infrastruktur, akan mempengaruhi kelancaran dalam berinvestasi karena akan meningkatkan biaya investasi lebih tinggi.
2.     Sistem birokrasi, birokrasi yang panjang akan menyebapkan biaya tinggi atau disebut high cost economy.
3.     Keterbatasan sumber dana, seringkali pihak perbankan masih sulit mengucurkan dana bagi usaha-usaha kepariwisataan yang biasanya berbasi ekonomi kecil yang dianggap mempunyai resiko kredit tinggi.
4.     Investasi sumber daya manusia, masih langkahnya SDM dengan predikat lulusan dari program studi pariwisata sehingga kurang professional danakhirnya kurang dapat mengembangkan usaha pariwisata.
Dengan melihat permasalahan yang ada tersebut maka pemerintah daerah Kota Ternate harus berupaya meminimalkan kendala yang terjadi dengan kebijakan sebagai berikut:
1.     Regulasi sector pariwisata yang menyangkut masalah perjanjian, kepastian hukum
2.     Melakukan peningkatan pembangunan infrastruktur seperti transportasi darat dan udara, telekomunikasi, listrik, dan sebagainya
3.     Melakukanprogram pelatihan-pelatihan ada SDM yang bergerak pada sector pariwisata
4.     Goodwill sector perbankan dengan guarantee pemerintah daerah untuk berpihak pada sector UKM terutam sector pariwisata yang benar-benar mempunyai potensi tinggi dalam menggerakan roda ekonomi dan target PAD daerah.
Tabel 1. 4
Jumlah Kunjungan Wisatawan Ke Kota Ternate
No
Tahun
Domestik
Mancanegara
Total Wisatawan
Jmlh
Pertumbuhan
Jmlh
Pertumbuhan
Jmlh
Pertumbuhan
1
2001
9107

214

9321

2
2002
22272
144,5
330
54,2
22601
142,5
3
2003
24425
9,7
247
-25,2
24672
9,2
4
2004
27056
10,8
171
-30,8
27227
10,4
5
2005
29657
9,6
162
-5,3
29819
9,5
6
2006
36269
22,3
146
-9,9
36415
22,1
7
2007
80457
12,7
120
-18,0
40977
12,5
8
2008
45446
11,2
93
-22,0
45539
11,1
9
2009
50034
10,1
67
-28,2
50101
10,0
10
2010
54623
9,2
41
-39,3
54663
9,1
Sumber: DISBUDPAR Kota Ternate 2010
Berdasarkan pada karakteristik wilayah dan sumber daya yang dimiliki Kota Ternate dapat dikembangkan strategi pembangunan ekonomi yang mengarah kepada “Pengembangan pertanian yang mendukung Industri Pariwisata”. Alasan yang dipilih yaitu:
1.     Perdagangan bebas Zona Asean sudah sangat dekat, sehingga kita harus selalu berfikir tentang globalisasi.
2.     Sektor perdagangan merupakan sector andalan dalam pembentukan Produk Domestik Bruto Kota Ternate.
3.     Kota Ternate sangat kaya akan sumber daya alam, laut mauapun daratannya dan ini merupan sector unggulan pariwisata.
1.5 Tabel
Karakteristik Pengembangan Ekonomi
NO
KARAKTERISTIK
STRATEGI PENGEMBANGAN EKONOMI
1
Prinsip Pengembangan
·       Meneruskan kecenderungan pertumbuhan sector pariwisata
·       Memacu pertumbuhan sector perdagangan industry, baik dalam kualitas maupun kuantitas
·       Penegembangan sector industry untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan sebagai langka strategis untuk menyerap lapangan pekerjaan
·       Pengembangan pariwisata sebagai pemacu pengembangan PDRB Kota Ternate
2
Pola Keterkaitan Regional
·       Dapat memasok hasil-hasil industry kepada wilayah sekitarnya
·       Dapat memperkuat keterkaitan Provinsi dengan Provinsi tetangga serta kawasan Asia pasifik melalui arus wisatawan
3
Keterkaitan Terhadap Pembangunan Regional
·       Memperkuat struktur dan laju pertumbuhan ekonomi Kota Ternate melalui sector perdagangan dan pariwisata
·       Dapat menyediakan lapangan kerja jauh lebih besar
·       Dapat tetap mepertahankan kelestarian hutan dan laut untuk pengembangan pariwisata unggulan
4
Fungsi Wilayah
·       Pusat perdagangan untuk Provinsi Maluku Utara
·       Daerah tujuan wisata
5
Pengembangan Komoditi Unggulan
·       Komiditi unggulan sector pariwisata: sector perdagangan dan wisata alam dan budaya

C.              Dampak Industrialisasi Pariwisata
1.               Dampak Sosial-Ekonomi
Harus diakui bahwa program pengembangan ekonomi nasional bertumpuh pada industri pariwisata kita. Bahkan, perkembangan pariwisata dalam tiga dasawarsa terakhir telah melewati batas-batas yang paling optimis dari perencanaannya sendiri. Hampir seperempat dari pendapatan dunia beredra di seputar industry pariwisata, dan tanda-tanda selalu menunjukan grafik yang terus menanjak. Pariwisata telah menjadi industri sipil terbesar yang melampaui asset industry kendaraan, baja, elektronika dan pertanian. Satu di antara lima belas orang di dunia kini bekerja di industry jasa ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketakutan bahwa pariwisata akan merusak kebudayaan tradisional sudah mulai surut. Apalagi kemakmuran yang baru diperoleh justru secara sadar dipergunakan untuk memperkuat perwujudan keagamaan, tradisi serta kesenian. Persoalannya kemudian adalah apakah kemakmuran itu secara praktis member karakter meriotokrasi pada masyarakat Kota Ternate? Agaknnya masih ada dimensi lain dari slogan kemakmuran itu yang perlu mendapatkan perhatian serius, yakni proses kesadaran akan potensi sosio-religius umumnya orang Maluku Utara sendiri yang hilang dalam perilaku keseharian, meskipun tampak kuat dalam aktivitas keagamaan dan adat.
Seperti yang dikatakan Soemardjan dalam bukunya M. Baiquni25 “Tidak berlebihan apabila pariwisata dimasukan ke dalam bidang ekonomi yang pembangunannya mengikuti kaidah-kaidah ekonomi.”. Dalam program pembangunan ekonomi yang demikian itu, keberhasilan industri pariwisata selalu diukur dari target (angka) kedatangan wisatawan Mancanegara ke dalam negeri. Dengan perkataan lain, program pengembangan pariwisata ingin mencapai target kedatangan wisatawan Mancanegara karena kedatangan mereka dapat menambah kekayaan devisa Negara dan kemakmuran masyarakat Indonesia.
25 M. Baiquni dkk, Loc.cit Hal 188


Implementasi dari program itu, tentu saja memerlukan berbagai upaya yang mengikuti kaidah-kaidah ekonomi sebagaimana dikatakan sebelumnya. Implementasi kaidah-kaidah ekonomi yang baik membutuhkan manajemen professional (SDM berkualitas, terampil, professional), disamping modal dan orientasi keuntungan berlipat. Tuntunan demikian dianggap wajar karena pariwisata harus dikelola secara modern. Akan tetapi, modernisasi berjalan seiring dengan kapitalisasi. Karena kapitalisme dan modernisasi bergerak seiring ibarat sepasang roda yang memiliki dua sisi, yakni sisi yang satu berorientasi keuntungan dan sisi lainnya adalah idealisme dengan keinginan mensejahterakan masyarakat tujuan wisata dengan dollar, seperti yang dikemukakan Kartoridjo dalam bukunya I Putu Anom26 “maka modernisasi terwujud pada beberapa pokok, antara lain property (milik), occupation (pekerjaan), dan contract (perjanjian). Prinsip-prisip inilah yang lebih menjamin kepastian dan keamanan kaum pemodal dan pengusaha daripada tenaga kerja dan pemiliki tanah. Selo Soemardjan melihat bahwa di situlah dasar-dasar civil society diletakan meskipun pihak pribumi (penduduk local) belum cukup memiliki pengetahuan serta kesadaran utnuk menghayatinya.
Ditinjau dari sudut ekonomi, maka pariwisata yang mendatangkan wisatawan mancanegara ini menempatkan pihak Indonesia menjadi penjual jasa wisata, sedangkan negara-negara yang menjadi sumber wisatawan berhadapan dengan negara kita sebagai pembeli jasa-jasa itu. Dalam hubungan jual-beli itu dan mengingat sainganyang keras dengan negara-negara lain, maka untuk mendapatkan bisnis yang sukses, Indonesia harus mampu menyediakan jasa wisata yang bermutu tinggi dan berharga yang murah. Lagi pula, Indonesia harus terus menerus berusaha supaya dikenal dengan luas di negara-negara asal wisata. Orientasi ke Barat dalam mempromosikan pariwisata juga berimplikasi luas.
26 http://www.pikiran-rakyat.com-Strategi Promosi Wisata,di akses pada 19 Oktober


Untuk dapat mengusahakan mutu jasa dan agar dapat menarik sebanyak mungkin wisatawan mancanegara yang berdevisa ke dalam negeri, maka masyarakat Indonesia sebagai penerima wisata perlu menyelami factor-faktor ekonomi dan budaya yang mendorong orang-orang dari daerah (negara) sumber wisatawan agar ingin berwisata ke Indonesia, khusunya Kota Ternate. Ungkapan “menyelami factor-faktor ekonomi” inilah yang akan memunculkan sikap paradox. Kelanjutan dari ungkapan “menyelami factor-faktor ekonomi” adalah keharusan memilki dan menguasai manajemen professional dan modal. Modal dan manajemen itu pada umumnya tidak mungkin disediakan masyarakat setempat. Namun demikian, kesan bahwa penduduk local hanya dijadikan unsur pelengkap industri pariwisata sulit ditolak. Pola pikir itu juga membiasakan penggunaan logika kapitalis bahwa angka-angka dalam bentuk keuntungan selalu lebih darppada kebudayaan dan relegiositas memberi kekuatan meritologis kepada penduduknya sendiri.
Kalaulah diterima pandangan yang melihat adanya dampak pariwisata terhadap masyarakat local, maka dampak tersebut secara umum dapat digolongkan menjadi dampak fisik, budaya, social, dan ekonomi. Dampak ini, seringkali tidak segera dapat dirasakan dan diketahui karena pariwisata itu sendiri bersifat kompleks dan saling berkaitan. Implisitas konflik yang demikian itu cenderung disimpan di dalam benak masyarakat, yang pemunculannya ke permukaan menunggu stimulant dan waktu yang tepat. Akibatnya, dampaknya pun lebih dari satu jenis dan bersifat kompleks juga.


2.     Dampak Pariwisata Terhadap Kebudayaan Lokal
            Dampak langsung pariwisata terhadap kebudayaan, menurut Dean (1999), antara lain menyangkut atraksi pariwisata yang berlanjut pada perubahan aktivitas seni atau produksi budaya yang disesuaikan dengan selera wisatawan. Dasar pertimbangannya antara lain para wisatawan mancanegara ini merupakan komunitas tersendiri yang khas, karena itu perlu disuguhkan seni pertunjukan yang khas buat mereka. Seni pertunjukan semacam itulah yang disebut sebagai seni metamorphosis, atau seni akulturasi, seni pseudo tradisional, atau seni wisata, dan seni turistik.27 Oleh karena komunitas wisata itu adalah komunitas temporer, yang hanya tinggal beberapa hari di daerah tujuan wisata, dan pada umumnya mereka hanya membawa uang secukupnya, maka kemasan pertunjukkan yang cocok buat mereka adalah kemasan yang memiliki ciri-ciri berikut:
a.      Tiruan dari aslinya,
b.     Singkat atau padat atau bentuk miniature dari aslinya,
c.      Penuh variasi
d.     Ditinggalkan nila-nilai sacral, magis dan simbolnya,
e.      Murah harganya
27 Gamal Suwantoro, Dasar-dasar pariwisata, Yogyakarta, Andi Offset, 2004


Dalam menikmati pertunjukan wisata pada umumnya para wisatawan Mancanegara yang bertujuan untuk sekedar mendapatkan pengalaman estetis, dan bukan untuk menikmatinya dengan penghayatan yang sublim. Ini berarti bahwa di samping pertunjukkan bagi penduduk setempat berlanjut, hadirnya wisatawan Mancanegara yang merupakan komunitas tersendiri. Sekali lagi, secara singkat hadirnya industri pariwisata internasional akan memperkaya seni pertunjukan Indonesia. Inilah dampak posistif dari hadirnya di Indonesia, Kota Ternate khususnya. Meskipun demikian masih harus dikritisi apakah seni wisata yang demikian tidak berdampak terhadap seni tradisional yang lain?
Menurut Soedarsono dalam bukunya M. Baiquni28, bahwa “ metamorfosis seni yang demikian itu cenderung berwatak komersial dan sekuler. Dalam karya itu,  Soedarsono mengatakan bahwa “komersialisasi dan sekularisasi adalah dampak modernisasi yang melanda segala sector kehidupan manusia akibat revolusi industri pada paruh kedua abad ke-19. Proses komersialisasi dan sekulerisasi ini makin menghebat pada abad ke-20.
28 M. Baiquni dkk, Loc.cit Hal 39


Tanda-tanda komersialisasi dan sekulerisasi mulai muncul ketika para wisatawan Mancanegara masih mengharapkan lebih dari itu. Bagaimana caranya agar bisa menikmati pertunjukan setiap harinya. Apabila ingin menyaksikan bentuk-bentuk pertunjukan yang lain, mereka harus menunggu ada upacara adat dan sebagainya. Di samping itu, apabila seni pertunjukan rakyat dijadikan tontonan sekuler, masalah yang dihadapi sangat banyak dan rumit, antara lain siapa yang memikul biaya produksi? Pada dasarnya kemajuan pariwisata Kota Ternate memunculkan kesadaran baru dari kebudayaan itu sendiri, yakni suatu pencerahan budaya; hasil dari pariwisata yang berasal dari kebudayaan Kota Ternate, sebagian dipergunakan untuk keperluan kebudayaan.
Dampak pariwisata sendiri dapat bersifat positif dan negatif. Mengkritisi beberapa pernyataan yang mencoba menghitung dampak positif dan negatif pengembangan pariwisata ditemukan nilai yang paradoksal, yang kebenaran sejatinya sangat tergantung dari mana orang melihatnya. Dalam pandangan pengamat budaya local, meningkatnya peluang sosial dan ekonomi yang demikian tinggi dan cepat berkat adanya pariwisata, pada sisinya yang lain dilihatnya sebagai proses komersialisasi dan sekularisasi kebudayaan tradisional yang pada waktunya akan menjangkau berbagai aspek kehidupan, budaya, pendidikan dan konsumen, yang juga berjalan cepat. Akibatnya kecenderungan masyarakat local berorientasi materi dan pola hidup konsumtif dianggap fenomena yang menyimpang dan lepas tradisi. Akan tetapi para pebisnis, pengamat, dan aktivitas pariwisata mewah melihat fenomena social dan budaya seperti itu sebagai dampak positif dari pariwisata, sedangkan pengamat budaya mulai merasakannya sebagai ancaman serius.
      Disana diduga ada pengikisan, bahkan “pelenyapan” stereotip penduduk setempat yang tampak sebagai epifenomon yang disesalkan, yang umumnya diumumkan dalam wacana “orang Ternate kehilangan karakter ke-Ternate-annya” atau dianggap gangguan bagi tradisi orang Ternate itu sendiri, meskipun mungkin mereka tidak memilki dan menggunakan konsep jatidiri yang jelas tentang hal itu.
      Masih terus diperhitungkan bahwa stereotip (oleh penduduk local): “Apakah subjek itu pantas dipromosikan untuk menarik wisatawan mancanegara mau dating ke tempatnya?” Kalaupun promosi ini berhasil, apakah tidak berdampak kerugian-kerugian kultur juga? Kelanjutan dari fenomena sosial-budaya semacam ini adalah munculnya “standar ganda” dalam menyikapi berbagai persoalan, antara lain persoalan prostitusi yang melalui berbagai wacana diharamkan, namun didukung dan dikembang secara diam-diam, termasuk dalam menyikapi stereotip-nya sendiri di tataran kebangsaan, padahal nilai-nilai yang terkandung didalamnya tidak sesuai lagi dengan tatanan kehidupan yang baru sedang dijalani. Denga perkataan lain, pelenyapan stereotip atau identitas etnik dapat menjadi sesuatu yang sangat relative tergantung sudut pandang yang digunakan untuk melihatnya. Akan tetapi analisis secara akademik lebih melihat pelenyapan stereotip itu sebagai sesuatu yang serius.
      Bila pandangan ganda itu dieksplesitkan pada kesenian, maka tampak jelas bahwa para seniman dan produsen seni telah terbiasa menggunakan pendekatan ekonomi dalam kegiatan keseniannya. Pada waktunya perhitungan-perhitungan ekonomi akan dianggap wajar sepanjang digunakan untuk memenuhi pembentukan citra modernitas. Seniman mulai mempertimbangkan biaya produksi kesenian sebagai sumber nafkah. Akan tetapi, pertimbangan dan pendekatan ekonomi dalam kegiatan jasa pariwisata itu pada akhirnya berimplikasi luas dalam segala aspek kehidupan masyarakat local, justru inilah yang perlu diwaspadai.
      Selain itu, ketika loyalitas personal mereka terhadap kebudayaannya sendiri akan menipis, maka peran mereka menjadi sangat minimum dalam membina dan mengembangkan kebudayaan Kota Ternate, lebih-lebih berbagai tekanan sosial dan ekonomi mulia dirasakan. Tekanan sosial itu dapat berwujud fashion, dan pola rekreasi setempat yang disenangi banyak orang.. Jangan dilupakan pula bahwa penggelembungan kebutuhan konsumtif itu diperkuat dengan bujukan promosi berbagai produk yang seakan-akan membangun pencitraan social melalui televisi. Alih-alih meningkatkan citra modernitas, berhadapan dengan tekanan sosial semacam itu kita dapat kehilangan kemanusiaan dalam kohesi baik di tempat kerja maupun di dipelosok desa. Retaknya kohesi social ini dapat dilihat dari indikasi tindakan anarkis dalam menyelesaikan konflik bernuansa adat, dan fenomena ini harus disebut berulangkali.
Dengan demikian, masyarakat Kota Ternate sebagai pendukung kebudayaan aslinya juga mengalami pergeseran karakter, nilai bahkan pelonggaran system nilai. Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah apakah kecenderungan demikian semata-mata disebapkan oleh industri pariwisata, atau memang merupakan pengaruh globalisasi, sementara pariwisata hanyalah kendaraan yang mempercepat globalisasi tersebut? Jawaban atas pertanyaan ini penting diapresiasi agar tidak menjadikan pariwisata sebagai “kambing hitam”, namun juga tidak di puja sebagai ideology baru.
 Demikianlah kita selalu menemukan hal-hal yang paradoks dalam pengembangan pariwisata. Hal ini lantaran tidak mudah menemukan bagian mana dari suatu kebudayaan yang perlu diubah dan mana yang harus dipertahankan. Di lihat dari sisi yang berlawanan bahwa penduduk local tidak memiliki aparat interpratatif untuk mengetahui, memahami dan memakhlumi perubahan kultur itu.











PENUTUP
A.              Kesimpulan
Dari penelitian tentang Strategi Pemda dalam Pengembangan Potensi Pariwisata Internasional di Kota Ternate, dapat disimpulkan bahwa:
1.     Potensi Pariwisata di Kota Ternate akan menjadi tempat wisata nasional maupun internasional, jika pengelolaan fasilitas dan publikasi potensi Pariwisatanya bisa dikelola dengan baik, sehingga dapat dikenal dan diketahui pada tingkat Nasional maupun Internasional. Hal ini meniscayakan adanya suatu kefokusan dari pemerintah daerah dan perhatian dari pemerintah pusat untuk membantu mengembankan Potensi Pariwisata di kota Ternate.
2.     Publikasi yang efektif oleh pemerintah Kota Ternate dan Instansi terkait dapat menarik perhatian para investor untuk mengelola dan mengembangkan potensi Pariwisatanya, agar dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat, sehingga kesenjangan ekonomi masyarakat dapat teratasi.
3.     Jika hal di atas dilakukan secara efisien dan efektif, dapat diprediksikan lima tahun kedepan potensi Pariwisata kota Ternate akan menjadi salah satu tempat Pariwisata terkenal pada tingkat Nasional maupun Internasional, sehingga dapat dikunjungi oleh para Touris Lokal maupun Asing, yang berujung kepada meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

B.              Saran

Dalam penelitian ini, ada beberapa hal yang dapat penulis sarankan kepada pemerintah Kota Ternate, agar dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan acuan sesuai dengan apa yang telah penulis bahas dan simpulkan di atas, yaitu:
1.     Diharuskan pengembangan Potensi Pariwisata dapat dijadikan sebagai suatu rumusan prioritas utama program kerja pemerintah kota maupun daerah, mengingat pariwisata adalah suatu hal yang sangat diminati masyarakat Nasional maupun Internasional saat ini.
2.     Menciptakan aturan-aturan tentang investasi asing yang tidak mencederai kepentingan pemerintah, para investor dan masyarakat setempat.
3.     Membuka jaringan dengan pemerintah pusat untuk mempromosikan Potensi Pariwisata kota Ternate pada tingkat internasional, melalui duta-duta besar yang berada di setiap negara-negara yang menjalin kerjasama dengan Indonesia.
4.     Mempromosikan potensi pariwisata Kota Ternate melalui media Cetak ataupun Elektronik, contohnya menerbitkan buletin maupun tabloid dan membuat website