Beberapa
media di Indonesia umumnya dan Maluku Utara khususnya terbaca bahwa sangat
patuh terhadap kepentingan ekonomi-politik kelompok tertentu dengan memberi porsi
lebih pada agenda yang ingin dicapai.
Menurut
Stuart Mill, media pada dasarnya tidak memproduksi melainkan menetukan (to define) realitas melalui pemakaian kata-kata yang
terpilih (Firman Yursak, Eddie Widiono:
Dibawah Pusaran Media, 2007) . Pertarungan kepentingan dalam dunia media
termasuk TV, Twitter, FB, BB, Lembaga survei ataupun lainnya selalu memenangkan
kepentingan sang pemilik/sumber. Untuk konteks Maluku Utara terkait pemilihan Bupati-Wakil Bupati kita sulit mendapat berita/informasi yang bersifat
kritis tentang masalah money politics atau
lain sebagainya yang mengarah pada pelanggaran pemilu.
Inilah
skema permainan yang dimainkan timses salah satu kandidat Gubernur-Wakil
Gubernur Maluku Utara. Dengan media mereka menguasai jaringan-jaringan yang bersifat
epicentrum pemenang malalui permainan OPINI yang digiring masuk ke
tengah-tengah masyarakat yang pada dasarnya membuat semua konstalasi politik
berubah. Kantong-kantong suara yang dimiliki kandidat lain menjadi
terpolarisasi bahkan termakan dengan wacana yang berkembang lewat media,
terlebih media online seperti yang disebutkan diatas tadi.
Inilah
pergerakan yang sulit dibendung karena dibalik itu ada kekuatan besar yang
bersifat materi/dana. Permainan ini sudah tak asing lagi bagi mereka yang
sering mendengarnya, sebap ini merupakan instrument yang dipakai untuk mencapai
kepentingan. Kematangan dalam analisis akan mengantarkan kita titik kebenaran.
Bentuk
penekanannya adalah masyarakat harus pandai melihat, mendengar, & memahami
opini yang berkembang, harus pandai memilah semua informasi yang masuk. Jadi
media informasi seperti “pisau bermata dua”, bisa menjadi malaikat-bisa menjadi
setan yang mempengaruhi pemikiran atau pilihan strategis kita. Olehnya itu kita
harus punya analisis kritis dalam mebiasakan memverifikasi info yang didapat. Karena
terlepas dari itu semua akan menghadirkan agitasi/isu yang bersifat negative/ekstrem
dan menimbulkan potensi konflik yang besar. Berkaca dari pemilihan periode
sebelumnya maka kita semua tidak mengingkan hal seperti terjadi kembali.
Masyarakat
harus sadar bahwa sebuah keputusan resmi berada ditangan KPUD, maka kita harus
bersabar untuk menunggu hal itu. Semoga Maluku Utara memiliki PEMIMPIN YANG
ADIL, JUJUR, CERDAS & TEGAS.-
#SalamDamaiUntukPilgubMalut
By:
NURCHOLISH
H. RUSTAM (Direktur Lingkar Studi Kajian Politik & Budaya Maluku Utara)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar