Secara normatif, demokrasi merupakan
sesuatu yang secara ideal hendak dijalankan oleh sebuah negara, seperti
pernyataan Abraham Lincoln ”government from the people, by the people
and for the people” (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk
rakyat), yang dikenal sebagai konsep demokrasi klasik, dan biasanya
dituangkan dalam konstitusi Negara, demokrasi adalah memperbincangkan tentang kekuasaan, atau
lebih tepatnya pengelolaan kekuasaan secara beradab. Ia adalah sistem manajemen kekuasaan yang dilandasi oleh
nilai-nilai dan etika serta peradaban yang menghargai martabat manusia, demokratisasi adalah memahami secara benar hak-hak yang kita miliki, menjaga hak-hak
itu agar siapapun menghormatinya
Samuel Huntington dalam karyanya
gelombang demokratisasi ketiga (third
wave democratization), mengemukakan bahwa prosedur utama demokrasi adalah
pemilihan para pemimpin secara kompetitif, dipilih melalui proses pemilihan
umum yang adil, jujur dan berkala. Bahwa para calon secara bebas bersaing
untuk memperoleh dukungan suara pemilih.
Dengan
demikian, esensi sistem politik demokrasi adalah terwujudnya kebebasan politik
rakyat dalam mengekspresikan preferensi dan hak-hak politiknya (souvereignty), serta adanya rekrutmen
politik terbuka dalam konteks pemilu memilih Pemimpin politik oleh wakil
rakyat, bupati/walikota/gubernur termasuk didalamnya presiden dan wakil presiden.
Untuk
mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi tersebut, maka tepat tanggal 31
Oktober 2013 menjadi puncak pesta demokrasi di Bumi Moloku Kie Raha melalui
pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur yang memasuki putaran ke 2. Berbagai
tawaran Visi/Misi yang dikampanyekan oleh Tim Suksesnya bahkan oleh Calon
Gubernur dan Wakil Gubernur secara langsung tentunya semuanya mempunyai dampak
positif terhadap Pembangunan Provinsi Maluku Utara. Ada yang memasang Tagline "Perubahan", Tagline "Menuju Era Baru" Sampai
Tagline yang Polos Dan Datar, Tapi semua itu merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisah dari misi membangun daerah, akan tetapi beberapa hal yang perlu kita
sadari dan bisa menjadi Telaah kita bersama yakni "Dari Sisi Mana Kita Mau
Merubah Maluku Utara (Jika ditilik dari Perspektif Sosio Kultur) ?? Dan
Indikator Apa yang mau dipakai untuk Merubah Maluku Utara ?? Terus bagaimana
dengan Pondasi Pembangunan yang telah di torehkan pada masa Thaib Armayin-Abd.
Gani Kasuba di Masa Pemerintahannya ??.
Tentunya hal
ini akan menjadi Kontradiksi kualitatif jikalau Visi Cagub-Cawagub Maluku Utara
dipaksakan pada sisi Perubahan, karena Perubahan tidak bisa dilakukan semudah
membalik telapak tangan. Perubahan itu sendiri butuh tahapan dan proses yang
begitu lama karena minimal langkah awal yang dilakukan adalah membongkar pondasi
yang telah dibangun oleh pemerintahan sebelumnya, dan jikalau hal itu dilakukan
maka niscaya pembangunan akan berjalan tidak maksimal akibat tenaga
Cagub-Cawagub telah terkuras habis oleh Pondasi yang sudah di bongkar, akhirnya
pembangunan selanjutnya semakin terbengkalai dan yang sangat kontradiktif lagi
yaitu momentum Pemilu hanya 5 tahun sekali, artinya waktu 1 tahun hanya dipakai
untuk Membangun karena 4 Tahun telah terpakai untuk pembongkaran, sosialisasi program
sampai tetek bengek lainnya. Maka dari itu, suksesi pemilihan Gubernur dan
Wakil Gubernur Maluku Utara harus berorientasi pada upaya untuk membangunan
akselerasi program, yakni sinergitas antara program di pemerintahan sebelumnya
dan program di pemerintahan selanjutnya, sehingga laju pembangunan bisa
tercapai secara berkelanjutan tanpa merubah hasil karya pemerintahan
sebelumnya. Pemerintahan Thaib Armayin-Abd. Gani Kasuba harus realistis kita
nilai sebagai satu pijakan awal untuk membangun Maluku Utara yang berkelanjutan,
walaupun masih jauh tingkat keberhasil. Artinya segala sesuatu serta hasil yang
telah mereka raih adalah bagian dari Suatu “Karya” yang wajib dilanjutkan oleh
pemerintahan kedepan. Para Cagub-Cawagub harus menggagas Misi kebijakan
pembangunan yang ditekankan pada pembangunan yang berkeadilan dan
berkesejahteraan serta berwawasan lingkungan (growth with equity, prosperity, and also environmental sustainability)
. Selain itu disektor perekonomian, Pemerintahan kedepan diharapkan membangun
hubungan yang kuat antara Pemerintah, komunitas bisnis, dan masyarakat secara
umum untuk melihat peluang investasi di Maluku Utara. Dengan demikian,
keuntungan yang akan dicapai benar-benar dapat dirasakan masyarakat dan
memberikan kehidupan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.
Dan melalui momentum ini, masyarakat
diharapkan mampu berpikir bijak dan ikut berpartisipasi dalam mendukung
terwujud pembangunan yang berkelanjutan di Maluku Utara untuk lima tahun
kedepan, yang mampu mengakomudir seluruh seluruh kepentingan rakyat.
Selanjutnya berikan saran dan masukan kepada setiap stockholder yang berperan
penting dalam roda pemerintahan. Semoga yang terpilih nantinya mampu memberikan
prestasi, reputasi, dedikasi serta kapasitas demi kesejahteraan, keadilan dan
kedamaian bagi masyarakat Maluku Utara sebagai pihak yang memberikan tanggung
jawab kepada mereka untuk memimpin, tinggalkan identitas kesukuan yang melekat
pada diri mereka karena kesadaran etnis yang kita miliki adalah socio
nasionalisme, kekuatan rakyat untuk memilih siapa pun yang memiliki “ profesionalisme
“ kepemimpinan, maka kita akan memilih dengan cerdas untuk Daerah ini. Dengan
filosofi “terbitnya matahari dari ufuk timur, maka dari timur pula Indoneisa
akan angkat bangkit”. Semoga perubahan itu hadir di Bumi Jazirah Al-Mulk
(Negeri para Raja).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar