Rabu, 16 Maret 2016

“Melihat Realitas, Meretas Arah, Menentukan Langkah”



Momentum dan tahapan pemilihan Kepala Daerah serentak di se-Indonesia telah berakhir kemarin tanggal 17 Februari 2016. Terlepas dari persoalan sengketa dari sebagian kepala daerah yang masih bergulir di Mahkamah Konstitusi, proses pengucapan sumpah yang ditandai dengan pelantikan serentak kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih se-Indonesia berjalan hikmat dan lancar. Dengan demikian kita sebagai masyarakat tinggal menunggu aksi nyata dari janji mereka yang telah disampaikan pada masa kampanye lalu.
Tentunya untuk merealisasikan program, para kepala daerah dan wakil kepala daerah sudah pasti bergerak sesuai dengan visi-misinya. Visi yang kemudian menjadi dasar dalam mewujudkan pembangunan daerah. Seperti dalam catatan F.D. Nasir, apabila kita ingin mencapai suatu kondisi yang lebih baik pada masa yang akan datang, maka keinginan tersebut akan mudah dicapai apabila kita memiliki gambaran yang jelas. Visi adalah melihat sejauh mungkin ke depan, bertitik tolak dari apa yang kita lihat di masa kini. Inilah yang disebut “visi”, visi merupakan gambaran yang kita lihat pada masa yang akan datang. Ringkasnya visi adalah mimpi, tetapi mimpi yang mungkin menjadi kenyataan (dream come true), bukan utopia (khayalan) tanpa pijakan. Dengan kata lain visi merupakan mimpi yang berlandaskan kenyataan.
Berangkat dari pandangan tersebut, maka Visi bukanlah angan-angan yang jauh tinggi melayang tanpa pijakan atau sadaran. Dengan kata lain visi adalah cara pandang kita tentang diri dan lingkungan seperti organisasi, daerah, wilayah regional, dan lain sebagainya. Pandangan itu tentang prototype masa depan yang diinginkan atau diimpikan, namun tetap bertitik tolak dari realitas atau kenyataan yang ada. Kenyataan artinya kondisi empirik yang ada, dalam konteks pembangunan daerah yang dimaksud adalah potensi yang ada yang dapat kita gunakan atau berdayakan untuk mengejar “mimpi” tersebut.
Nah, untuk Provinsi Maluku Utara umumnya dan Kota Ternate secara khusus, yang secara totalitas memiliki karakter budaya yang kuat, yang sudah mengakar dari zaman dahulu sejak hadirnya Kerajaan Ternate, sudah tentu harus mempunyai visi yang berlandaskan kearifan lokal. Masih teringat jelas ketika saya pertama kali bertemu dengan Kang Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta) pada oktober 2013 silam di Bandung, beliau begitu terperinci menjelaskan visi pembangunan daerah yang bertolak dari kearifan lokal.
Beliau mengatakan “hal yang paling terpenting dalam mewujudkan pembangunan adalah bagaimana mengembangkan sesuatu itu berdasarkan potensi yang dimiliki atau berdasarkan karakter yang dimiliki”. Kita memiliki potensi perikanan, perkebunan, berbagai potensi yang dimiliki. Termasuk potensi-potensi yang bersifat identiti lokal masyarakat..
Nah, kerangka itulah yang perlu dikembangkan. Karena, tidak ada kekuatan untuk membangun sebuah bangsa kecuali berasal dari kekuatan bangsa itu sendiri. Kekuatan bangsa sebenarnya kan kekuatan kultur wilayahnya. Kekuatan kultur wilayahnya ditopang oleh kekuatan manusianya. Sehingga menurut saya, setiap orang harus terintegrasi dengan potensi di sekitarnya. Nah, inilah yang ingin dikembangkan. Dalam sisi idealisme, ini sebenarnya sebuah kerangka berpikir jangka panjang yang tidak mungkin dicapai dalam waktu lima tahun. Tetapi obsesi harus dimiliki oelh kepala daerah saat ini adalah meletakkan kerangka dasar yang kuat.
Karena selama ini, ketika memimpin sebuah daerah, kebanyakan ingin membuat yang instan saja dan berpikirnya dalam parameter lima tahun atau parameter sepuluh tahun. Yang pastinya kita semua ingin setiap kepala daerah membangun parameter jauh lebih ke depan dengan memanfaatkan waktu yang lima tahun ini membuat fondasi yang kuat tentang Kota Ternate. Karena dengan kekuatan itulah kita akan mempunyai daya tahan.
Yang ingin saya katakan bahwa, ketika kita mempunyai keyakinan untuk melakukan sebuah perubahan maka yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai individu dan juga masyarakat ikut merumuskan visi pembangunan daerah dengan merujuk pada kearifan lokal, sebagai identitas kita, dengan sungguh-sungguh/ikhlas dalam bekerja. Besar harapan kami kepada Walikota dan Wakil Walikota yang baru bisa mengaplikasikan hal tersebut, karena sesungguhnya kita sebagai putra daerah tentunya ingin menghindari apa yang disebut dengan “Orang Ternate hilang ke-Ternate-annya”.

1 komentar:

  1. Betway Casino Review, Bonuses and Games | JTHub
    Welcome to JTM Hub, 문경 출장안마 the official website of JTG 전주 출장마사지 Gaming, the leading provider of video slots and live casino 광주 출장안마 games, for 충청남도 출장안마 over 경기도 출장샵 70000 casino

    BalasHapus