Sabtu, 01 Desember 2012

Rakyat Diminta Selektif Memilih Cagub Maluku Utara


Momentum demokrasi lokal berupa pemilihan gubernur Maluku Utara akan segera memasuki babak baru. Meskipun masih terhitung setahun lagi, akan tetapi kasak-kusuk sekilas munculnya calon Gubernur mulai tampak dihadapan publik. Baik memakai metodologi publikasi seperti spanduk/ baliho/ stiker. Bahkan melalui media massa. Semuanya itu merupakan tahapan awal untuk melangkah ke jenjang berikutnya
Dari rentetan pergerakan para kandidat seperti itu, masyarakat kembali diperhadapkan pada pilihan kontraversial, yang dimana hegemoni cara berpikir basis elektoral yang super fluralistik, sangat membuka peluang munculnya dinamika politik baru yang ekstra transaksional. Merujuk pada setiap momentum politik lokal, tentunya selalu memunculkan fenomena perpolitikan baru yang sifatnya insidentil, akibat hilangnya nilai serta kaidah berdemokrasi yang sesungguhnya. Meskipun substansi demokrasi secara umum masih menjadi pijakan suatu momentum karena berbagai regulasi yang sifatnya mengikat. Akan tetapi demokrasi prosedural tetap saja berada diatas pusaran demokrasi pragmatisme akibat perilaku elite politik yang haus akan cara inkonstitusional dalam mengobak-abik KESUCIAN panggung demokrasi prosedural.
Tentunya ini menjadi penyakit kronis yang sampai sekarang belum ditemukan cara yang mapan untuk penanganannya, sehingga konstitusi sebagai kitab tertinggi di negara ini hanya menjadi hiasan sejarah yang tabu untuk di aktualisasikan.
Penyelenggaran negara semakin paranoid dan prematur dalam mengimplementasikan hirarki produk perundang-undangan kita.
Pemilihan gubernur Maluku Utara tahun 2013 mendatang harus menjadi catatan kritis yang harus dipegang oleh semua kalangan. Tentunya masyarakat dihimbau agar realistis melihat siapa saja figur yang bisa konsisten menjalankan amanah masyarakat. Figur yang dimaksud adalah mampu mengimplementasikan program-program rill untuk kesejahteraan rakyat. Tak hanya itu, figur yang dimaksud adalah mampu menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi serta melawan praktek-praktek yang sifatnya inkonstitusional oleh birokrasi.
Maluku Utara pada Umumnya masih berada diatas pusaran konsolidasi pembangunan yang dimana belum terjadi perubahan secara signifikan akibat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sangat krusial, yakni masih terjebak dibawah arus predikat daerah terkorup. Sangat dibutuhkan langkah-langkah penyelamatan daerah. Ada 5 poin penting yang harus menjadi pegangan semua figur, yakni : mendorong terciptanya pemerintahan yang bersih, peningkatan infrastruktur penunjang ekonomi lokal, stabilitas keamanan dan ketertiban lokal, pencanangan program pendidikan dan kesehatan gratis, meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang berkesinambungan,
Olehnya itu , sebagai kalangan akademisi meminta semua kontestan Pilkada agar mencanangkan program-program yang pro rakyat dan tidak terkesan sembrawut. Tahapan Pilkada pun diharapkan mampu membawa persaingan yang sifatnya konstruktif. Artinya kontestan harus bersaing dengan menjual program kepada rakyat, bukan dengan melakukan black campaigne, sehingga merugikan kontestan lainnya. KPUD juga diharapkan agar memegang prinsip independensi institusi, yakni memposisikan diri sebagai wadah untuk mengayomi semua kontestan Pilkada, yaitu dengan posisi netral dalam menjalankan seluruh tahapan Pilkada Maluku Maluku Utara. Tak hanya KPUD, POLRI dan TNI juga dihimbau agar menjadi garda terdepan dalam mewujudkan stabilitas keamanan dengan menjauhkan diri dari intervensi politik.
Oleh: Nurcholish Rustam ( Mahasiswa Pascasarjana Univ. Nasional Jakarta ),

Tidak ada komentar:

Posting Komentar