Selasa, 02 April 2013

Menuju 01 Maluku Utara



Dinamika politik Maluku Utara akan mencapai puncaknya pada 1 juli 2013 tapi jauh sebelumnya masyarakat sudah disuguhi drama kolosial yang dibingkai secara halus berupa issu dan wacana bahkan ada gerakan-gerakan yang secara tidak langsung dapat memicu sesama bakal  calon. Tingkat elektabilitas setiap tokoh sampai pada partai menjadi taruhan untuk menduduki kursi orang nomor 1 di Maluku Utara, tak heran jika ada kelompok ataupun faksi-faksi penentang yang bermunculan untuk meneriakam aspirasi atas nama rakyat, dengan dasar bahwa ada kepentingan-kepentingan terselubung yang diselipkan oleh setiap bakal calon dalam bertarung di pemilihan gubernur kali ini. Penguatan dasar tersebut diantaranya adalah kasus korupsi, keterbatasan SDM dan berbagai masalah lainnya yang kemudian dijadikan senjata untuk melawan “kedzoliman”.
Hal ini sendiri dapat memicu resistensi sesama pendukung ataupun loyalis dari bakal calon, tak bisa dipungkuri ketika memory Pilgub tahun 2008-2009 masih membekas di masyarakat. Konsepsi tentang Pemilukada yang aman, damai, dan bersih perlu diaplikasikan secara saksama, dan masyarakat akan merasa bahwa suara mereka menjadi terwakilkan dengan adanya keterbukaan dari setiap aktor di Pilgub nanti. Harapan supaya pemilihan Gubernur Maluku Utara tahun 2013 ini menjadi suatu momentum politik dalam menggerakan pembangunan di Maluku Utara kedepan yang lebih baik adalah tujuan mutlak dan sebagai suatu keharusan bagi elite politik dalam mensejahterkan rakyat.
Sudah saatnya kesejahteraan itu hadir, bukan lagi sebatas wacana yang didengungkan, dan bukan lagi sebatas konsep. Sambut perubahan itu dengan sebuah kemenangan yang ditentukan oleh rakyat, bukan oleh siapa-siapa.-

Noercholish Rustam
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar