Dalam suatu realitas hubungan, baik hubungan personal
maupun interpersonal, nasional maupun internasional, memiliki beberapa
keterkaitan dan ketergantungan satu sama lainnya. Keterkaitan tersebut
memberikan kontribusi yang sangat kuat bagi hubungan pihak-pihak yang
bersangkutan. Namun, ketika kita memahami suatu hubungan antar negara
satu dengan lainnya yang diartikan sebagi hubungan internasional ini,
hal-hal yang mempengaruhi baik dari segi positif maupun negatifnya masih
cukup banyak. Entitas Globalisasi membuat negara-negara menjadi satu
dan bergabung membentuk wadah organisasi yang mana tujuan kedepannya
ialah agar dapat tercapainya suatu bentuk kerjasama regional maupun
keamanan bersama. Masa Orde baru di Indonesia yang dipimpin oleh
Presiden RI ke-2 Soeharto, memberikan kontribusi yang cukup besar
terhadap hubungan luar negeri Indonesia saat itu. Ketika kita memahami
Hubungan Indonesia dengan wilayah negara-negara di Asia Tenggara pada
masa orde baru, suatu bentukan organisasi yang dianggap mampu mendapat
respon yang cukup baik bagi politik luar negeri RI dan sebagai
rekonstruksi pembangunan di sektor ekonomi Indonesia, yang kemudian
dikenal dengan ASEAN atau
Association of South-East Asian Nations.
Dimana wadah organisasi ini dipelopori oleh 5 negara pendiri yakni:
Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Beberapa
kontroversi terus menerpa hubungan Indonesia dengan Malaysia sebelum
pemerintahan orde baru muncul. Seperti yang kita ketahui, pada saat era
presiden Soekarno, politik “Ganyang Malaysia” yang dikeluarkan sebagai
senjata untuk memberontak sekaligus menentang pembentukan persemakmuran
Inggris, federasi Malaysia. Malaysia dinilai sebagai bentuk pengaruh
imperialisme barat yang disebarkan oleh Inggris, dan kemudian,
memberikan suatu ide “Konfrontasi” yang bersifat radikal terhadap
kebijakan luar negeri Indonesia yang dikeluarkan presiden Soekarno pada
masa Orde Lama[GER2] [1]. Hubungan Indonesia Malaysia yang pertama kali
dikenal dalam konstelasi politik regional, diawali dengan konfrontasi
Indonesia vs Malaysia. Persamaan rumpun (melayu), sejarah,
letak geografis
serta persamaan bahasa yang sama tidak menjadikan Indonesia dan
Malaysia menjalin hubungan yang sangat baik dan berlangsung secara
harmonis, bahkan hubungan Indonesia sangatlah buruk ketika itu[2].
Perbedaan sejarah kolonialisasi membuat
Rezim Soekarno atas ketidakpuasan terbentuknya negara Malaysia pada dekade tahun 1960an.
Penyebarluasan imperialisme barat yang dinilai Soekarno memberikan
pengaruh negatif terhadap kelangsungan negara-negara Asia Tenggara
akhirnya membentuk suatu persepsi dan hubungan yang kurang baik dengan
Malaysia. Pemulihan Hubungan Indonesia-Malaysia atas konfrontasi yang
dibuat oleh Soekarno, diakhiri pada tahun 1967 dan sekaligus
menggantikan posisi pemerintahan Soekarno yang jatuh karena
pemberontakan G-30S PKI, kemudian berganti menjadi pemerintahan Soeharto
yang sekaligus merupakan awal mula dari pemerintahan Orde baru ini.
Upaya
menggalakkan pemulihan hubungan diplomatik Indonesia-Malaysia pada
khususnya dan Indonesia-PBB pada umumnya dicerminkan melalui kembalinya
Indonesia dalam keanggotaan PBB. Akan tetapi, perjalanan hubungan diplomatik antarnegara bertetangga memang tidak selalu berjalan mulus dan lancar. Utamanya
Indonesia belakangan ini gencar disinggung oleh klaim budaya melalui propaganda pariwisata Malaysia. Kemudian, isu
Terorisme[GER3]
yang gencar dibicarakan. Isu-isu perbatasan wilayah (Sipadan dan
Ligitan, Ambalat, Sabah dan Serawak), penampungan kayu-kayu dan
illegal logging,
penyelundupan BBM dan sebagainya sehingga hubungan kedua negara
tersebut sangat kurang harmonis[3]. Malaysia dinilai sebagai bangsa yang
sangat melecehkan Indonesia bahkan menginjak-injak harga diri
Indonesia. Dari hal inilah terlihat bahwa hubungan yang terjalin antara
Indonesia-Malaysia tidak berjalan secara harmonis dan tidak mencerminkan
suatu hubungan timbal-balik dalam lingkup geografis yang dapat
menghasilkan kerjasama dari sektor perekenomian maupun militer. HUBUNGAN
INDONESIA DAN SINGAPURA Hubungan antara Indonesia [GER4] dengan
Singapura pada era Soekarno tidak erat. Karena
Indonesia memandang
bahwa Singapura adalah tempat bagi kekuatan-kekuatan asing dan para
pemberontak Indonesia sebgai batu loncatan untuk bersembunyi dan
menyusun rencana. Singapura juga dianggap sebagai tempat tinggal
bagi para penyelundup-penyelundup asal Indonesia dan sumber jalur
peredaran narkoba. Dahulu memang Pulau Tumasik atau sekarang disebut
dengan Singapura merupakan markas bagi para perompak laut yang merompak
para pedagang yang berlayar di selat malaka. Selama konfrontasi antara
Indonesia dengan Malaysia, Singapura merupakan bagian integral dari
Malaysia, di bawah serangan langsung. Pasukan rahasia dikirim ke
Singapura untuk melakukan kegiatan
subversive. Pada bulan
Agustus 1965, Singapura lepas dari Malaysia dan merdeka. Kemudian
menjalin hubungan diplomatik dengan dengan Indonesia. Namun, pada tahun
1968 hubungan antara kedua Negara tersebut memburuk karena tindakan dua
marinir Indonesia yang dikirim pada era Soekarno dalam konfrontasi
dengan Singapura meledakkan bom di Orchad Road. Kedua anggota militer
tersebut langsung dihukum mati oleh pengadilan Singapura. Pihak
Indonesia pada saat itu dipimpin oleh Soeharto dan Adam Malik berusaha
mengusahakan keringanan hukuman dengan meminta merubah hukuman menjadi
hukuman seumur hidup. Namun, permintaan tersebut ditolak. Akibatnya
terjadi kerusuhan di Jakarta dan Surabaya dengan merusak kedubes
Singapura dan tindakan unjuk rasa anti-Cina karena para pengunjuk rasa
yakin bahwa etnis Cina Indonesia menaruh simpati terhadap etnis Cina
Singapura yang menjadi mayoritas penduduk negara tersebut. Berbagai
pendapat juga muncul di pemerintahan Soeharto, ada beberapa yang
memandang bahwa tindakan Singapura itu adil dan bersahabat. Ada pula
yang menganggap bahwa Indonesia perlu mengirim pasukan. Tapi, Soeharto
yang mengutamakan perkembangan ekonomi Indonesia menolak
tindakan-tindakan agresif yang merusak hubungan antara dua negara
tersebut. Pada saat itu kondisi hubungan antar kedua belah Negara
mencapai titik yang terendah. Perlu lima tahun untuk memperbaikinya.
Hubungan antara Indonesia dengan Singapura membaik pada tahun 1973. pada
saat itu Indonesia mengundang perdana menteri Lee Kuan Yew untuk datang
ke Indonesia dan akhirnya Singapura mengunjungi Indonesia yang segera
dibalas Indonesia dengan tindakan Soeharto yang mengunjungi Singapura.
Setelah kejadian tadi, hubungan antara kedua Negara membaik dengan ide
dari Singapura untuk mebnjalin kerjasama ekonomi bilateral dengan
Indonesia. Namun, para pemimpin militer Indonesia tidak begitu saja
percaya terhadap tindakan Singapura ini. Karena dicurigai bahwa
Singapura bekerjasama dengan RRC. Pada tahun 1975 diadakan pemungutan
suara terhadap tindakan Indonesia yang menginvasi timor timur Singapura
menyatakan abstain. Namun pada tahun 1977 Singapura beserta negara ASEAN
lain mendukung Indonesia dalam rangka menasionalisasikan timor timur.
Hal ini menjadi titik kerjasama yang lebih antara Indonesia dengan
Singapura. Hal ini ditandai dengan kerjasama perdagangan yang terpusat
di selat melaka khusunya pulau batam. Dalam kerjasama ekonomi ini, pulau
batam dijadikan sebagai puast industri dan perdagangan oleh Indonesia
dan pusat investasi Singapura terhadap Indonesia. Pada tahun 1990
terjadi kesepakatan pembangunan Pusat Industri Batam antara Indonesia
dengan Singapura yang bernilai 400 juta dollar. Selain itu pajak ganda
perdagangan juga dihapuskan dan kedua Negara juga mendorong kerjasam
dalam bidang pariwisata. Perkembangan kerjasama ekonomi membawa pada
meningkatnya tuntutan akan keamanan. Akhirnya pada tahun 1989 disepakati
MoU antara Indonesia dengan Singapura yang memberi izin bagi militer
Singapura untuk berlatih ke Indonesia dan Indonesia berhak menerima
teknologi militer dari Singapura. Selain itu terjadi latihan militer
gabungan yang diadakan secara rutin. Mengenai kerjasama militer ini,
terjadi gejolak internal dalam pemrintahan Indonesia. Soeharto tidak
berkeberatan apabila itu bukan pangkalan militer, para pemimpin militer
pun kritis dalam menganggapi hal ini. Pangkalan militer asing akan
mengancam kedaulatan Indonesia. Namun kebutuhan akan teknologi dan
kemampuan militer Amerika memaksa Indonesia untuk menyetujuinya. Pada
tahun 1994 Indonesia dan Singapura menandatangani persetujuan kerjasama
pariwisata dan persetujuan pelayaran udara yang memungkinkan kedua
Negara mengmbil keuntungan dari meledaknya industri pariwisata. Pada
tahun 1995 Singapura tercatat sebagai penanam modal komulatif nomor 6 di
Indonesia dan menjadi mitra dagang terbesar ketiga Indonesia setelah
Jepang dan Amerika Serikat. Pada maret 2009 terjadi pertemuan antara
Indonesia dengan Singapura. Dalam pertemuan empat mata dengan Perdana
Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
kembali membahas perjanjian perbatasan maritim yang selama
bertahun-tahun tertunda. Presiden SBY mengatakan, Perjanjian Perbatasan
Laut bagian barat antara Indonesia dengan Singapura akan ditandatangani
pada 10 Maret 2009. Menurut Kepala Negara, dengan disepakati perjanjian
perbatasan maritim itu, maka Indonesia memiliki peluang untuk
mengembangkan kawasan Pualau Nipah guna kepentingan nasional. Misalnya
untuk kepentingan pertahanan maupun perekonomian. Selain membahas
mengenai perjanjian perbatasan maritim tersebut, Presiden Yudhoyono
dengan PM Singapura juga membahas kerjasama untuk menghadapi krisis
keuangan[4]. Selain kerjasama tentang ekonomi dan keamanan juga dijalin
kerjasama di bidang lain yaitu perjanjian ekstradisi antara dua negara
tersebut. Indonesia dan Singapura telah menandatangani perjanjian
ekstradisi untuk menyeret penjahat keuangan ke pengadilan. Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Singapura Lie Hsien Loong
menyaksikan penandatanganan perjanjian itu Jumat kemarin di Bali.
Perjanjian itu, yang dapat berlaku surut, akan membantu para pejabat
Indonesia mengusut pelarian yang dituduh melakukan berbagai kejahatan,
dantaranya korupsi dan pelanggaran perbankan. Sebelumnya tahun ini
Indonesia melarang ekspor pasir ke Singapura yang tidak memiliki banyak
sumber-daya alam, langkah yang oleh sejumlah jurnalis diduga adalah
untuk menekan Singapura agar menandatangani perjanjian itu. Kedua negara
juga menandatangani perjanjian yang terfokus pada pendidikan militer
kedua negara[5]. Secara garis besar hubungan antara Indonesia Singapura
berjalan progresi sesuai dengan isu yang diusung oleh masing-masing dan
periode pemimpin negara. Pada awalnya hubungan antara Indonesia
Singapura memang kurang baik karena pada masa Soekarno, Singapura masih
bagian dari Malaysia yang sedang terlibat konfrontasi dengan Indonesia.
Kemudian pada masa Soeharto politik luar negeri Indonesia ke Singapura
cenderung konstruktif dengan memperbaiki hubungan yang kurang baik pada
pemerintahan sebelumnya dan menjalin kerjasama khususnya di bidang
ekonomi dan keamanan yang menjadi kepentingan yang ingin dicapai
Indonesia pada saat itu.Setelah reformasi khususnya pada masa SBY yang
sedang memperbaiki citra Indonesia di mata dunia melanjutkan program
kerjasama ekonomi dan keamanan dan mencoba melakukan hubungan kerjasama
di bidang lain antara lain HAM, hukum, kelautan, dll yang intinya
adalah bahwa Indonesia merupakan negara yang cinta damai dan aman.
Uraian di atas telah menjelaskan bahwa kepentingan dan isu yang dibawa
oleh politik luar negeri Indonesia berbeda, sesuai dengan periode
pemimpin pemerintahan. HUBUNGAN INDONESIA DAN VIETNAM Hubungan dan
ikatan diplomatik Indonesia sudah terjalin selama lima puluh tahun.
Keduanya memiliki konsesus bersama untuk sepakat meningkatkan hubungan
dan kerja sama di segala bidang, termasuk kerja sama keamanan dan
penanggulangan bajak laut di perairan Selat Malaka[6] serta
mengungkapkan saling dukung sebagai dewan keamanan tidak tetap PBB.
Hubungan indonesia dan Vietnam utamanya dilandaskan pada aspek kultural
dan sosial. Landasan utama hubungan diplomatik kultural Indonesia-dan
Vietnam diimplementasikan ke dalam fram sejarah kebudayaan misalnya
dengan mlakukan penelitian arkeologi bersama bertajuk ”Kebudayaan Dong
Son dan Persebarannya” di masing-masing negara, penelitian reguler
bertajuk
Consultative Workshop Archeology and Environmental Study on Dong Son Culture” yang
mempertemukan peneliti arkeologi dari Vietnam dan Indonesia dengan
dihadiri oleh penijau dari negara lain[7]. Namun jika ditilik dari
kacamata sejarah dan pergolakan pasca perang dunia II dan perang dingin,
maka hubungan diplomatik Indonesia dan Vietnam memiliki akar kuat
ketika
masing-masing negara dipimpin oleh Soekarno dan Ho Chi Minh yang mana
pada saat itu isu-isu seputar komunisme dan pembentukan politik
poros-porosan menjadi kajian utama menjalin kerja sama dan membangun
ikatan dekat. Indonesia sebagai salah satu aktor penting di ASEAN
pada masa pergolakan Vietnam dan Kamboja, menggagasi solusi perdamaian
bagi keduanya utamanya menyangkut saran kepada Vietnam untuk tidak
mencampuri urusan dalam negeri Kamboja dalam bentuk apapun khususnya
bantuan politik maupun militer pada salah satu kubu yang sedang
berseteru. Indonesia menggagasi supaya rakyat Kamboja diberikan
kebebasan penuh dan kesempatan untuk memilih pemimpin untuk mengarahkan
revolusi Kamboja ke arah yang dikehendaki. PEMECAHAN MASALAH KAMBOJA
Setiap negara dalam perjalanan setiap pemerintahannya tentu saja tidak
lepas dengan serangkaian pergolakan, baik bersifat intern maupun
eksternal. Pergolakan intern kamboja, tercatat pada peristiwa ancaman
komunisme kamboja di tahun 1975 di mana banyak yang mengklaim bahwa
pergolakan tersebut tidak lepas dari
pengaruh negara tetangganya yakni Vietnam dan China.
Sedangkan salah satu contoh pergolakan eksternal Kamboja yakni
perselisihan dengan Thailand berkaitan dengan candi purba Preah Vihear
di perbatasan kedua negara tersebut[8]. Sepertihalnya Indonesia yang
identik dengan negara sumber terorisme, Kamboja juga dikenal berkaitan
dengan berbagai permasalahan keamanan dan perbatasan dengan negara
tetangganya. Oleh karena itu, ruang lingkup pembahasan permasalahan
Kamboja masih sangat luas. Fokus pembahasan memiliki kecenderungan
menjadi bias dan terlalu terdispersi. Persengketaan maupun pergolakan di
suatu negara yang berdaulat hakekatnya masih merupakan wewenang
internal bebas intervensi asing sampai pada tingkat level tertentu
negara bersangkutan secara kognitif menyampaikan inkapabilitasnya.
Keberadaan forum kawasan, ASEAN dalam hal ini idealnya adalah
berpartisipasi aktif dalam menjaga situasi keamanan. Sebagai contoh
studi kasus untuk mendapatkan pendekatan perspektif permasalahan, yakni
sengketa Candi Preah Vihear di perbatasan Kamboja-Thailand. Permasalahan
bilateral antara Kamboja-Thailand telah dibawa dalam pertemuan ASEAN
guna mengijinkan ASEAN menjadi jembatan supaya tercapai
win-win solution.
Melalui Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo dan sebagai tanggapan
atas surat yang dikirimkan pemerintah Kamboja, yang meminta ASEAN juga
ikut campur untuk mendinginkan ketetgangan yang meningkat atara kedua
negara bertetangga tersebut. Akan tetapi beberapa perundingan yang
disponsori ASEAN melalui pembicaraan makan siang antarmenteri luar
negerinya, mengalami kebuntuan. Sekjen ASEAN, Surin Pitsuwan menyatakan
ASEAN tidak bisa mengontrol situasinya[9]. Bukankah ini secara implisit
mengungkapkan inkapabilitas ASEAN menghadapi permasalahan yang ada,
sekaligus seolah mengilustrasikan ASEAN hanya sekedar forum
talk shop.
Singkat kata, perundingan bilateral pun lebih digalakkan supaya
tercapai saling pengertian sekaligus saling menahan diri dari
benturan-benturan agresifitas militer. Kebuntuan ini bukan tanpa sebab,
tetapi karena tidak ada dari salah satu pihak Kamboja maupun Thailand
bersedia untuk berkompromi. Bahkan keupusan pengadilan internasional
terhadap kepemilikan kuil tersebut jatuh ke tangan Kamboja ditolak oleh
Thailand karena status tanahnya belum jelas[10]. Oleh karena itu,
pemerintah Pnom Penh pun kemudian berinisiatif mengirimkan permohonan
agar DK PBB campur tangan dalam menjembatani konflik bilateral
Kamboja-Thailand[11]. Konflik kedua negara ini merupakan cermin dari
inkapabilitas ASEAN yang tidak kompeten dan tidak efektif sebagai
fasilitator mediasi supaya terjadinya negosiasi. Hubugan internasional
antarkedua negara dan antarnegara di bawah payung ASEAN seolah-olah
tidak mencerminkan esensi dari keberadaan ASEAN sebagai forum bersama
menciptakan keharmonisan hubungan antaranggotanya. Upaya penyelesaian
konflik pun lebih banyak berasal dari inisiatif negara yang sedang
bertikai dengan memfokuskan diplomasi bilateral dan multilateral melalui
PBB. ANALISIS Hubungan diplomatik antarnegara tetangga selalu dipenuhi
konflik. Utamanya konflik yang berkaitan dengan pergolakan domestik erat
dengan determinasi siapa yang mendapatkan dukungan politik baik dari
dalam negeri maupun luar negeri, tetapi umumnya dari luar negeri; dan
permasalahan perbatasan. Misalnya kasus Malaysia dan Indonesia, Malaysia
memperoleh dukungan politik dan kekuatan baik dari Inggris dan Amerika
melalui dewan keamanan PBB. Sedangkan Indonesia kemudian memutuskan
untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya dukungan internasional dari
negara-negara Asia Afrika. Dalam konteks jalinan hubungan Indonesia dan
Singapura, lebih dititik beratkan pada usaha mengatasi penyelundupan dan
perjanjian ekstradisi, yakni kerjasama mana kala ada koruptor Indonesia
yang lari dan berobat di Singapura. Hubungan Indonesia dan Vietnam
secara politis terinisialisasi ketika Indonesia memiliki persamaan
pemahaman politik bagaimana mereka memandang komunisme dan kolonialisme
sehingga hubungan diplomatiknya saat itu terangkum dalam politik
poros-porosan. Dalam menjalin hubungan dengan negara tetangganya
utamanya negara yang sekawasan, Indonesia cukup aktif berperan serta dan
menggunakan pengaruhnya di ASEAN, dulu. Sayangnya sekarang ASEAN tidak
lagi menggigit dan permasalahan apapun yang diajukan ke ASEAN
seolah-olah tidak benar-benar dihadapi dengan keseriusan, sehingga
seringkali negara yang sedang bertikai kemudian mengajukan permasalahan
tersebut ke badan suprainternasional yang lebih tinggi posisinya, yakni
PBB, ambil contoh penyelesaian permasalahan Kamboja-thailand mengenai
perbatasan mereka. hal ini membuktikan inkapabilitas ASEAN yang tidak
lebih dari forum bersama yang penuh dengan
shop talk.